Syukuran Nelayan KKSS Desa Batu Belubang

Bangka Belitung-BN, Masyarakat perantau dari suku bugis KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan) Desa Batu Belubang, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah Propinsi Bangka Belitung, mengadakan ritual dan syukuran yang dilaksanakan di pesisir pantai Desa Batu Belubang, Senin (1/12/2015) dengan tema dalam bahasa bugis “ADANNA TORIOLOTA LEUKI SIPATOKKONG MALIKI SIPARAPPE” yang artinya tegak sama tinggi duduk sama rendah ringan sama dijinjing.

Acara tersebut dihadiri oleh seluruh warga bugis desa batu belubang dan perwakilan warga bugis yang ada di kabupaten bangka tengah dan sekitarnya beserta unsur Muspika dan juga mantan Bupati Bangka Tengah 2010 – 2015, Drs Erzaldi Rosman Johan.

Warga Sulawesi di Propinsi kepulauan Bangka Belitung merupakan yang terbanyak dari bermacam suku yang ada, mereka kebanyakan bermukim dipesisir pantai sesuai dengan profesi mereka sebagai nelayan,dengan adanya berbagai macam suku dan etnis namun kerukunan antar suku dan umat beragama sangat terjaga.

Perayaan KKSS setiap tahunnya dilaksanakan oleh warga keturunan bugis didesa Batu Belubang,dalam perayaan tahun ini Drs Erzaldi Rosman Johan dinobatkan sebagai tokoh suku bugis oleh H.Husein Karim sesepuh suku bugis dan juga menjabat kepala suku dari semua suku yang ada di Propinsi Serumpun sebalai.

Dipilihnya Erzaldi,karena beliau merupakan salah satu tokoh dan juga pemimpin daerah yang menjadi panutan bagi warga bugis khususnya di Kabupaten Bangka tengah.

Setelah dianugrahinya Erzaldi sebagai tokoh warga bugis beliau mengatakan bahwa suatu kehormatan dan kebanggaan baginya sebagai orang bugis, maka dengan di angkatnya sebagai tokoh orang bugis, dirinya akan menjaga kehormatan orang bugis yang salah satunya punya rasa malu tinggi.

“ Malunya orang bugis malunya erzaldi, malunya erzaldi malunya orang bugis, “tegas Erzaldi.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pelepasan replika kapal phinisi ke tengah laut yang di iringi oleh puluhan kapal nelayan Bugis. Kepada awak media H.Husein Karim mengatakan Ritual perayaan ini mencerminkan bahwa orang bugis yang merupakan nelayan tangguh walaupun badai menerjang namun tak menjadikan halangan untuk mencari ikan.

“Melihat pelepasan replika kapal phinisi yang langsung berlayar, menunjukan kedepannya masyarakat nelayan akan lebih sejahtera .” Jelas H. Husein Karim. (Amir H)

Sumber: 
binpers.com
Penulis: 
binpers.com
Bidang Informasi: 
Pemdes